Pintania's Blog

Ekonomi Pendidikan dalam Islam

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ekonomi adalah salah satu ilmu yang menyelidiki soal-soal pemenuhan kebutuhan jasmaniah manusia dalam arti mencari keuntungan atau mengadakan penghematan untuk kepentingan hidup. Atas dasar ini, maka pengetahuan dan penyelidikan mengenai asas-asas penghasilan (produksi) pembagian (distribusi) dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (seperti hal keuangan, perindustrian, perdagangan dan lain sebagainya) adalah sarana ekonomi tersebut. Maka hidup manusia ini diliputi oleh soal-soal ekonomi baik dalam mengatur urusan rumah tangga, menjaga kehematan dalam output dan input hingga eknomi ini merupakan satu ilmu yang luas bidangnya. Sebenarnya ekonomi tidak dapat dibatasi oleh jalan ilmu yang tertentu namun ia mencakup kebijaksanaan manusia dalam menjangkau soal-soal hidup dan perjalanan hidupnya. Oleh sebab itu ada bermacam-macam pendapat mengenai ekonomi itu maka terdapat teori Adam Smith (1723 – 1790) yang menganut “perdagangan bebas” dalam arti seseorang boleh berbuat sekehendak hatinya. Terdapat pula pendapat Thomas Robert Malthus (1776 – 1834) yang berdasarkan kecemasan menghadapi pertumbuhan penduduk melampai batas kecepatan pandangan sumber nafkah. Maka pendapat ini menimbulkan teori keluarga berencana untuk mengadakan perseimbangan jumlah penduduk dengan hasil bumi. Disamping itu terdapat pendapat Karl Marx (1817 – 1883) dengan Das Capital - pembiayaan yang revelis – membawa teori sosialisme dan terdapat pulalah pendapat kapitalisme yang bertentangan dengan pendapat sosialisme itu. Demikian pertentangan itu muncul di dalam masyarakat manusia yang menimbulkan bermacam-macam aliran yang tidak dapat dipercaya oleh masing-masing aliran dengan kata lian tidak dapat dipertemukan tetapi sering bersaingan bahkan berhadapan satu sama lain hingga politik internasional dibawa oleh arus kedua teori ini dan dunia sendiri berpecah dua dengan timbulnya dua Negara raksasa timur dan barat.

B. Pokok Permasalahan

  1. Apa pengertian pertumbuhan ekonomi?
  2. Bagaimana kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi?
  3. Bagaimana penelitian Schultz tentang pertumbuhan ekonomi?
  4. Bagaimana pula penelitian Denilson tentang pertumbuhan ekonomi?
  5. Bagaimana pertumbuhan ekonomi dalam pandangan Islam?

BAB II

PEMBAHASAN

Dalam makalah ini penulis mengambil terjemahan dari sebuah buku yang berjudul “The Economic Education” yang maksudnya adalah pertumbuhan ekonomi dihubungkan dengan dunia pendidikan dengan diawali sebuah :

Dengan menabur benih suatu waktu anda akan menuai

Dengan menanam sebatang pohon, anda akan memanen sepuluh kali lipat.

Dengan mendidik orang, anda akan memanen seratus kali lipat.

Terdapat cukup bukti kalau investasi dalam pendidikan Islam dapat menguntungkan bagi seseorang dan masyarakat karena itu tampak bahwa investasi dalam pendidikan akan menyuburkan pertumbuhan ekonomi.

Jawaban terhadap kedua pernyataan tersebut diperlukan jika ketetapan kebijakan harus dibuat tentang manfaat investasi kependidikan sebagai sarana pertumbuhan.

A. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Denilson (1962), “pertumbuhan ekonomi menunjukan peningkatan pendapatan Negara, diukur dengan harga dolar tetap.” Jika kita ingin mengukur pertumbuhan ekonomi dari tahun 1975 – 1976, kita perlu mendapatkan jumlah pendapatan Negara dalam dua tahun itu, diukur dengan harga dolar yang tetap dan menjumahkan perubahannya dalam persent. Untunglah data demikian tersedia dalam banyak media seperti The Economics Report of The President (1978), Survey of Current Business, Federal Reverse Bulletin, Organization for Economy Cooperation and Development (OECD), United National Publications, dan masih banyak lagi yang lain.

Dengan menggunakan jumlah pendapatan nasional dalam dolar tahun 1972 (berdasarkan Economic Report of The President, 1978), kami menemukan bahwa pendapatan Negara meningkat dari $ 956,9 milyar pada tahun 1975 menjadi $ 1,018,9 milyar pada tahun 1976 satuan peningkatan sebesar $ 62 milyar atau 6,5 %. Jumlah yang sama mungkin dicapai selama tahun-tahun yang lain dan dalam rentang waktu yang lebih lama, darimana kecepatan pertumbuhan tahun rata-rata dihitung.

Sebagaimana kemungkinan lain, “pertumbuhan ekonomi” dapat didefinisikan sebagaimana produk nasional perkapita dalam harga dolar tetap dolar tumbuh setelah suatu jangka waktu tertentu. Jika pendapatan Negara juga berperan sebagai ukuran produksi nasional, saat kita harus membagi jumlah pendapatan nasional masing-masing dengan jumlah penduduk di Amerika Serikat 213.559.000 pada tahun 1975, dan 215.142.000 pada tahun 1976 pertumbuhan pendapatan perkapita adalah yang memberitahukan kita pendapatan nasional perkapita dalam harga dolar 1972 yaitu $ 4,481 pada tahun 1976 pertumbuhan pendapatan perkapita adalah $225 atau 5,7 % selama penduduk bertambah, kecepatan pertumbuhan GNP pasti lebih besar dari kecepatan pertumbuhan GNP perkapita.

Definisi pertumbuhan ekonomi di atas bukannya tidak ditandingi di tempat pertama, pendapatan nasional hanya mencakup produk dan layanan yang besar. Katakanlah bahwa ekonomi telah mengalami peningkatan dalam kepentingan relatif aktivitas pasar dibandingkan dengan produksi rumah tangga (seperti : pemrosesan makanan, penggunaan pembantu dalam rumah tangga, dan sebagainya) jadi beberapa peningkatan dalam pendapatan nasional baru akan tampak, (tampaknya memang masuk akal kalau kepentingan relative produksi rumah tangga di Amerika Serikat pada dasarnya telah menurun dari tahun 1930 sampai sekarang.

Dalam kaidah ushul Fiqh yang berarti :

“Suatu perbuatan wajib (peningkatan mutu pendidikan) yang tidak sempurna, kecuali dengan melakukan perbuatan lainnya (peningkatan sarana dan kesejahteraan guru), maka perbuatan lain menjadi wajib.”

Persoalan yang lebih mendasar tentang manfaat umum jumlah pendapatan menyeluruh untuk menentukan pertumbuhan ekonomi terfokus pada alasan bahwa peningkatan pendapatan nasional sama dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi diperkirakan akan sama dengan peningkatan dalam pendapatan nasional.

Perubahan pendapatan nasional dan kepuasan konsumen bergerak dalam arah yang sama, sejumlah persoalan konseptual tetap ada. Pertama terdapat fenomena pengaruh eksternal yang menunjukkan sejauh mana kompetisi penuh berlaku dalam semua sektor ekonomi.[1] Semakin banyak jumlah industri dimana beberapa bentuk kompetisi tidak pernah tampak menonjol, semakin kurang reliabel sistem harga dalam menggambarkan kesejahteraan konsumen.[2]

B. Kontribusi Pemuskan Modal Pendidikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Sebagaimana WL Miller mengatakan “usaha untuk menghitung kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi jelas memerlukan penjelasan tentang mengapa kita harus memperkirakan adanya kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dari pendidikan.[3]

Diyakini “tidak setiap bentuk pendidikan akan” meningkatkan pertumbuhan ekonomi. “Pendidikan adalah sumber pertumbuhan ekonomi jika bersifat anti tradisional sampai ke taraf ia membebaskan dan merangsang serta menginformasikan kepada orang dan mengajarinya bagaimana dan mengapa tuntutan dibuat terhadap dirinya sendiri.” Karena itu, strategi pendidikan yang tepat akan muncul dalam empat kapasitas yang menghasilkan pertumbuhan. Pertama, “perkembangan suatu lingkungan umum yang menguntungkan bagi kemajuan ekonomi.” Maksudnya adalah bagi mobilitas sosial, suatu peningkatan umum baca tulis perlu untuk meningkatkan komunikasi, “dan membuat catatan dan menyimpan deposito di Bank.”[4]

Kapasitas kedua menekankan perkembangan sumber-sumber penghasilan yang baik bagi faktor-faktor yang agak berlimpah dan menggantikan faktor-faktor yang termasuk langka. Sebagai contoh, pemanfaatan sumber-sumber daya alam ditingkatkan oleh pendidik, ketika pendidikan memberikan bakat manajerial yang pada gilirannya dapat mengeksplorasi sumber-sumber pendapatan secara lebih efektif. Pada saat yang sama, pendidikan mungkin memberikan tekhnik-tekhnik untuk menanggulangi kelangkaan beberapa sumber pendapatan dengan menggantikan sumber-sumber daya langka dengan sumber daya yang baik tanpa pendidikan, orang akan jauh kurang dapat menyesuaikan diri dengan berbagai kebutuhan produksi. Dalam al-Qur’an sesuai dalam Surat al-Baqarah, ayat 245 yang berbunyi :

`¨B #sŒ “Ï%©!$# ÞÚ̍ø)ム©!$# $·Êös% $YZ|¡ym ¼çmxÿÏ軟ÒãŠsù ÿ¼ã&s! $]ù$yèôÊr& ZouŽÏWŸ2 4 ª!$#ur âÙÎ6ø)tƒ äÝ+Áö6tƒur ÏmøŠs9Î)ur šcqãèy_öè? ÇËÍÎÈ  (#لبقره : ٢٤٥)

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Baqarah : 245)

Kapasitas ketiga menggaris bawahi daya tahan investasi pendidikan. Miller memperhatikan bahwa pendidikan “mempunyai daya tahan yang lebih besar dari pada kebanyakan bentuk modal reproducible bukan orang” khususnya di Negara-negara yang mempunyai harapan lamanya hidup yang panjang pada kelahiran.” Lagipula, Miller berpendapat bahwa penurunan nilai dan keapkiran modal berbentuk orang terjadi jauh lebih lambat daripada modal fisik atas dasar bahwa, “biasanya hanya latihan khusus bentuk paling rendah saja yang menjadi benar-benar tidak terpakai.” Karena itu Miller menegaskan bahwa, “suatu investasi tertentu dalam pendidikan cenderung menjadi produktif, hal lain juga serupa, daripada investasi pada modal bukan orang.”[5]

Kapasitas yang keempat, “Pendidikan merupakan investasi konsumsi, pribadi dalam modal bukan orang, atau pengeluaran dana oleh pemerintah untuk selain tujuan pendidikan.” Dapat dibuktikan, bahwa pengeluaran untuk pendidikan kebanyakan dibuat dengan mengorbankan konsumsi (bukan penghematan).[6] Karena investasi dalam modal fisik dipersiapkan dapat menciptakan kontribusi bersih terhadap pertumbuhan ekonomi sekalipun kecepatan hasilnya secara internal lebih rendah dalam pendidikan daripada untuk modal material, karena ia mengalihkan sumber-sumber pendapatan yang sebaliknya dikonsumsi menjadi produksi tidak langsung.”[7]

C. Penelitian Schultz

Upaya serius untuk mengukur jumlah kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi telah dilakukan oleh Schultz.[8] Kita dapat menggaris bawahi metodologinya sebagai berikut. Kita harus memperoleh data tentang kontribusi tenaga kerja selama tahun-tahun pendidikannya untuk membuat penyesuaian peningkatan dalam hal lamanya masa sekolah. Juga kita harus memusatkan perhatian kepada pekerja saja. Meskipun Schultz meyakini bahwa peningkatan pendidikan, katakanlah, bagi ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja mempunyai pengaruh yang pasti positif terhadap  pertumbuhan melalui pendidikan informal di rumah. Ketika itu dapat diperlihatkan bahwa pekerja pada tahun 1957, “memperoleh 226,5 milyar dolar atau 71 milyar dolar melebihi pendapatan perorangan dalam tenaga kerja yang tidak berkembang” sejak tahun 1929.[9] Selanjutnya, Schultz menunjukkan bahwa saham modal dalam bentuk orang, yang diwakili oleh  kumpulan investasi disekolah juga telah meningkat, jika beberapa peningkatan diperlukan untuk memantapkan level 1929 itu dalam  persediaan pendidikan per pekerja, persediaan ini meningkat dengan $ 286 milyar lagi.

Penelitian Schultz memperlihatkan bahwa Schultz memusatkan perhatian pada penghasilan dan tingkat pendidikan tenaga kerja. Modal pendidikan dipandang sebagai faktor produksi tersendiri. Modal pendidikan  diperlakukan lebih menyerupai modal fisik meninggalkan hasil bagi modal dalam kategori yang tidak jelas. Schultz memberikan perkiraan adanya kontribusi pendidikan terhadap peningkatan penghasilan pekerja dan peningkatan masukan modal yang tidak dijelaskan oleh pertumbuhan modal fisik.

D. Penelitian Denilson

Analisis yang paling lengkap tentang sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dan kontribusi pendidikan terhadapnya telah dilakukan oleh Denilson.[10] Perhitungan Denilson atas peran pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi hanya memperhitungkan peningkatan tingkat pendidikan tenaga kerja, bukan tetapnya tingkat pendidikan yang ditentukan bagi anggota tenaga kerja yang baru. Dapat dibuktikan kalau investasi dalam pendidikan antara tahun 1949 sampai tahun 1969 harus menghasilkan peningkatan bagi tenaga kerja yang mempunyai sebaran modal pendidikan yang sama seperti yang dilakukan pada tahun 1948 juga harus diperhitungkan. “Kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi   dari tahun 1940 sampai tahun 1965 hanya 12,9 % dibanding dengan 20,9 % ketika meledaknya tenaga kerja juga diperhitungkan.”[11]

E. Pertumbuhan Ekonomi dalam Pandangan Islam

Kalau kita bahas ekonomi Islam, maka hendaklah kita melihat seluruh ajaran Islam. Islam adalah agama sederhana yang tidak mengajar dan mendidik manusia untuk berlebih-lebihan dalam berbuat dan bertindak, tetapi agama mengajar agar kita berbuat kekuasaan dalam arti sederhana, bukan kapitalis, sosialis maupun liberalis. Sebab Islam itu sendiri dan umatnya juga bersifat sederhana. Allah telah berfirman dalam surat al-Furqan ayat 67 yang berbunyi :

tûïÏ%©!$#ur !#sŒÎ) (#qà)xÿRr& öNs9 (#qèù̍ó¡ç„ öNs9ur (#rçŽäIø)tƒ tb%Ÿ2ur šú÷üt/ šÏ9ºsŒ $YB#uqs% ÇÏÐÈ ( الفرقن : ٦٧)

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)

Dalam surat al-A’raaf ayat 31 Allah berfirman :

ûÓÍ_t6»tƒ tPyŠ#uä (#rä‹è{ ö/ä3tGt^ƒÎ— y‰ZÏã Èe@ä. 7‰Éfó¡tB (#qè=à2ur (#qç/uŽõ°$#ur Ÿwur (#þqèùΎô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä† tûüÏùΎô£ßJø9$# ÇÌÊÈ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid[12], makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan[13]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-A’raaf : 31)

Manusia dalam dunia mempunyai sifat yang menentukan jalan hidup dan isinya untuk kepentingan manusia bersama. Di dalam hubungan manusia Islam dengan tuhannya tidak melepaskan manusia itu dari urusan dunianya. Dan di dalam dia melakukan tugasnya di dunia Allah pun tidak boleh ia lupakan. Manusia Islam tidak boleh ia lupakan. Manusia Islam tidak boleh menjauhkan diri dari dunia di dalam serba tindakan.

Oleh karena itu harus memanfaatkan dunia, maka ia harus memanfaatkan, menguasai, dan memiliki harta benda. Maka manusia, dunia dan uang itu hendaknya sejalan dengan pengadilan dunia, hidup, agama. Kalau sekiranya uang dan harta benda dimniliki oleh umat Islam, maka iapun hendaklah menjalankan ekonomi dalam arti yang meluas.

Untuk menjalankan usaha ini, Islam meletakan prinsip-prinsip utama dalam peraturan ekonomi seperti :

  1. Uang yang baik lagi halal dianggap sebagai soko guru dalam hidup yang wajib dijawab, dijaga, dan diusahakan daerah peredarannya.

Pokok persoalan ini didapatkan kepastiannya dari Qur’an Hadits. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Uang yang baik adalah untuk manusia yang baik pula.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman dalam surat an-Nisa ayat 5 yang berbunyi:

Ÿwur (#qè?÷sè? uä!$ygxÿ¡9$# ãNä3s9ºuqøBr& ÓÉL©9$# Ÿ@yèy_ ª!$# ö/ä3s9 $VJ»uŠÏ% öNèdqè%ã—ö‘$#ur $pkŽÏù öNèdqÝ¡ø.$#ur (#qä9qè%ur öNçlm; Zwöqs% $]ùrâ÷ê¨B ÇÎÈ

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum Sempurna akalnya[14], harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan Pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (QS. An-Nisa: 5)

2. Mengadakan lapangan kerja dan mata pencaharian bagi setiap manusia yang sanggup

Mencari sumber-sumber kekayaan bumi dan mempergunakan segala yang terdapat di dalam kosmos ini baik yang berupa bahan-bahan baku maupun bahan energy dan lain sebagainya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman dalam surah Jaatsiyah ayat 13 yang berbunyi :

t¤‚y™ur /ä3s9 $¨B ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur ’Îû ÇÚö‘F{$# $Yè‹ÏHsd çm÷ZÏiB 4 ¨bÎ) ’Îû šÏ9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 šcr㍩3xÿtGtƒ ÇÊÌÈ

“Dan dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Jaatsiyah: 13)

3. Menjauhkan diri dari segala sumber pencaharian yang haram, illegal menurut syariat Islam.

  1. Memperdekat jarak strata-strata yang ada di masyarakat yang sifatnya menghilangkan perbedaan kekayaan yang nyata antara yang kaya raya dan yang fakir.
  2. Mengadakan jaminan sosial bagi setiap warga Negara dan manusia Islam dengan melindungi mereka dari kemelaratan dan kesengsaraan.
  3. Melaksanakan bantu membantu dan keeksistensian yang merata hingga terasa adanya hidup persaudaraan yang sejati.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Terdapat cukup bukti kalau investasi dalam pendidikan dapat menguntungkan bagi seseorang dan masyarakat. Karena itu tampak bahwa investasi dalam pendidikan akan menyuburkan pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi menunjukkan peningkatan pendapatan Negara, diukur dengan harga dolar yang tepat. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai dimana produk nasional perkapita dalam harga tetap dolar tumbuh setelah suatu jangka waktu tertentu.

Sejumlah faktor yang ada tampaknya akan membuat taksiran yang terlalu rendah terhadap pertumbuhan ekonomi ketika di ukur dengan pendapatan nasional dengan menggunakan deflator harga seluruhnya, mungkin kita akan benar-benar gagal mengingat kualitas produksi.


[1] C.E. Ferguson, Micro Economic Theory, Edisi ke 3 Home wood III : Richard D. Irwin. 1972. Hlm. 250

[2] C.E. Ferguson, Micro Economic Theory, Hlm. 250

[3] W.L. Miller, Education as a Source of Economy Growth. Jurnal of Economy Issue, 1967. Hlm. 280-296

[4] S. Rosen, Measuring Obsolescence of Knowledge, dalam F.T. Juster, (ed), Education, Income and Human behavior, New York: Mc. Graw-Hill, 1975, Hlm. 199-232

[5] S. Rosen, Measuring Obsolescence of Knowledge, Hlm. 283. Tentang upaya untuk mengukur apkirnya pengetahuan.

[6] E.F. Denison, The Sources of Economic Growth in The United States, New York: Committee for Economic Development, 1962. Hlm. 77 – 78.

[7] E.F. Denison, The Sources of Economic Growth in The United States,Hlm. 77-78

[8] T.W. Schultz, Education and Economic Growth, dalam serial Force Influencing America Education, Editor, N.B. Hendry. Chicago: University of Chicago Press, 1961. Hlm. 46-50

[9] Elchanan Cohn, The Economic, edisi revisi, Cambridge: Ballinger Schultz dari M. J. Browman (1968) hlm. 177-289 dan 298-312

[10] E.F. Denison, Measuring the Contribution of Education (End the Residual) to Economic Growth, dalam in Organization for Economic Cooperation and Development (1964).Hlm. 13

[11] M. Selowsky, “on The Measurement of Education’s Contribution to Growth”, dalam Quarterly Journal of Economy (Agustus 1969). Hlm. 49

[12] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka’bah atau ibadat-ibadat yang lain.

[13] Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.

[14] orang yang belum Sempurna akalnya ialah anak yatim yang belum balig atau orang dewasa yang tidak dapat mengatur harta bendanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 131,672 hits

RSS model pembelajaran inovatif1

September 2014
S M S S R K J
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Komentar Terakhir

There are no public comments available to display.

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: