Pintania's Blog

FUNGSI KEPALA SEKOLAH

FUNGSI KEPALA SEKOLAH

DALAM MEMOTIVASI SISWA DALAM ISLAM

Oleh. A.ABRAR, M.Pd.I

A. Peran dan Fungsi Kepala Sekolah terhadap Organisasi Sekolah

Sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Bertsipat kompleks karena sekolah sebagai organisasi di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lainnya saling berkaitan dan saling menentukan. Sedang sifat unik menunjukkan bahawa sekolah sebagai organisasi mempunyai ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi lain. Ciri-ciri yang menempatkan sekolah memiliki karakter tersendiri, dimana terjadi proses pembelajaran, tempat terselenggaranya pembudayaan kehidupan umat manusia.

Karena sifat yang kompleks dan unik tersebut, sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah.[1]

Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang bersifat kompleks dan unik, serta mampu meaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah.

Sebagaimana yang di ungkapkan oleh Luthfi bahwa pentingnya para manajer dalam manajemen pendidikan sangat mempengaruhi proses pendidikan dalam mencapai tujuannya. Organisasi pendidikan yang tidak memiliki manajer diibaratkan seperti “kapal yang tidak ada nahkodanya”. Artinya tidak ada orang yang mengemudikan pengelolaan organisasinya, sehingga proses pendidikan tidak bisa berjalan dengan baik.[2]

Sebagaimana yang diungkapkan oleh C. Turney dan kawan-kawannya bahwa pada sekolah yang efektif itu harus memiliki kepemimpinan instruksional yang kuat, mempunyai fokus yang jelas terhadap lulusan, memiliki harapan yang tinggi terhadap siswa, memiliki lingkungan yang aman dan teratur, dan melakukan monitoring terhadap seluruh kegiatan yang telah tercapai. Di samping itu, setiap kepala sekolah juga harus menguasai seluruh aspek-aspek manajerial dan mampu mengembangkan kemampuan manajerialnya secara baik.[3] Oleh karena itu, maju mundurnya kegiatan inti organisasi sekolah sangat ditentukan oleh tugas dan peran Kepala sekolah dalam mengelola sekolahnya.

Islam juga menjelaskan bahwa setiap pemimpin, termasuk kepala sekolah, bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Tanggung jawab ini tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia (akuntabilitas horisontal), tetapi juga ditujukan kepada Allah (akuntabilitas vertikal). Oleh karena itu, seorang kepala sekolah yang islami harus bekerja secara optimal terhadap segala yang diamanatkan  kepadanya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai islami, sehingga ia dapat mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah SWT di akhirat kelak. Adapun  mengenai tanggung jawab ini  termuat dalam hadis nabi saw yang berbunyi :

… كلكم راع و كل راع مسؤ ل عن ر عيته … (رواه البخارى)

Artinya : “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya”.[4]

Sesuai dengan ciri-ciri sekolah sebagai organisasi yang bersifat kompleks dan unik, tugas dan fungsi kepala sekolah seharusnya dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi tertentu kepala sekolah dapat dipandang sebagai pejabat formal, sedangkan dari sisi lain kepala sekolah dapat berperan sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator yang biasa disingkat EMASLIM. Ada dua buah kata kunci yang dapat dipakai sebagai landasan untu memahami lebih jauh tugas dan fungsi kepala sekolah.

Kedua kata tersebut adalah “Kepala” dan “Sekolah”. Kata kepala dapat diartikan ketua atau pemimpin dalam suatu organisasi atau sebuah lembaga. Sedangkan sekolah  adalah sebuah lembaga di mana menjadi tempat menerima dan memberi pelajaran.[5]

Dengan demikian secara sederhana kepala sekolah dapat didefinisikan sebagai seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dengan murid yang menerima pelajaran.

  1. B. Fungsi Kepala Sekolah dalam Memotivasi Belajar Siswa

Kata Motivasi berasal dari kata “motive” yang mempunyai arti “dorongan”.  Dorongan itu menyebabkan terjadi tingkah laku atau perbuatan, baik dorongan yang datang dari dalam diri manusia maupun yang datangnya dari lingkungannya.

Menurut MC. Donald dalam Tabrani, dkk yang dikutip Drs. H. Nashar, M.Ag menjelaskan bahwa motivasi adalah suatu per-buatan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbul-nya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. [6]

Pemaparan di atas mengungkap adanya tiga unsur penting, yaitu: (1). bahwa motivasi mengawali terjadinya perubahan energi pada setiap diri manusia.  Perkembangan motivasi itu makin membawa perubahan pada sistim neurofisiologis yang ada dalam organisme manusia, (2). motivasi ditandai dengan muncul-nya rasa feeling, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi, dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia, (3). motivasi ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.  Jadi motivasi dalam hal ini, sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi, yakni tujuan.  Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia akan tetapi kemunculannya karena adanya rangsangan atau dorongan dari unsur-unsur lain yang keberadaannya di luar diri manusia sehingga menyebabkan munculnya satu tujuan yang ingin dicapai.[7]

Dalam kegiatan belajar, guru harus terlebih dahulu me-rencanakan untuk apa ia memotivasi siswa, untuk apa siswa mempelajari materi-materi pelajaran yang akan diajarkan. Guru juga harus mampu menemukan cara untuk menimbulkan motivasi siswa dalam belajar, baik dengan cara yang sama untuk semua siswa atau berlainan dalam memotivasi antara satu siswa dengan siswa lainnya.

Motivasi dapat dibedakan kedalam dua macam, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik.  Motivasi intrinsik dalam belajar adalah seluruh dorongan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya dalam belajar.  Misalnya siswa belajar, karena ia menyenangi mata pelajarannya atau ingin memahami materinya. Motivasi ekstrinsik dalam mempelajarinya adalah seluruh dorongan yang berasal dari luar siswa yang dapat mendorongnya dalam mempelajari mata pelajaran tersebut. Misalnya siswa mempelajari matematika, karena ia ingin mendapat nilai baik atau karena keharusan dari orang tua.

Dari kedua macam motivasi di atas, motivasi intrinsiklah yang mempunyai peranan besar dalam meningkatkan hasil belajar seorang siswa.  Karena itu, seorang siswa harus memelihara dan membangkitkan motivasi intrinsiknya. Seorang kepala sekolah harus bisa membangkitkan gairah para siswa dalam belajar.

Jm. Keller dalam H. Nashar mengemukakan rancangan motivasional ada 4 (empat) kondisi yang harus diperhatikan guru, antara lain: minat, relevansi, harapan dan kepuasan.[8] Dalam hal ini, minat menunjukkan apakah rasa ingin tahu siswa dibangkit-kan dan dipelihara secara terus menerus sepanjang kegiatan pem-belajaran sedangkan relevansi menunjukkan adanya keterkaitan antara kebutuhan siswa dengan aktivitas pembelajaran.  Harapan menunjukkan adanya kemungkinan siswa mencapai keberhasilan dalam belajar, sedangkan kepuasan menunjukan gabungan hadiah ekstrinsik dengan motivasi instrinsik atau kesesuaian dengan yang diantisipasi siswa.

Banyak cara yang dapat dilakukan kepala sekolah agar potensi yang dimiliki oleh siswa termotivasi pada waktu belajar, antara lain: (1) menciptakan situasi yang kondusif untuk belajar.  Dengan terciptanya perasaan yang nyaman dan rasa senang, akan timbul kegairahan dan rasa berani dalam diri siswa pada waktu belajar dan tidak timbul rasa takut dalam menyelesaikan tugas belajar. Sebab kreatifitas dan produktifitas siswa merupakan salah satu faktor meningkatkan motivasi belajar.  (2) mengusahakan agar bersikap simpati, dan siswa merasa bahwa guru mereka merupakan pelindung dan sekaligus menjadi orang tua selama berada di sekolah.  (3) menciptakan persaingan yang sehat sesama siswa waktu belajar, dengan persaingan yang sehat siswa akan bergairah belajar.

Motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong siswa untuk belajar dengan senang, dan belajar secara sungguh-sungguh, yang pada gilirannya akan terbentuk cara belajar yang sistematis, penuh konsentrasi dan dapat menyeleksi kegiatan-kegiatannya.

Mc. Donald dalam tulisan artikel Drs. Sobri, A. M. Ag memberikan beberapa strategi atau kiat yang harus dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, sekaligus memper-tahankan minat belajar anak didik terhadap beban pelajaran yang telah diberikan, antara lain:

  1. Angka.

Angka adalah sebuah simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik dan merupakan alat motivasi yang cukup signifikan memotivasi belajar siswa untuk mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi siswa yang dimuat di dalam buku rapor.  Guru dituntut arif dalam memberikan penilaian, sehingga tidak merugikan siswa.

  1. Hadiah

Hadiah adalah memberikan kepada orang lain sebagai peng-hargaan atau sebagai kenang-kenangan / cenderamata.  Pem-berian hadiah dapat diberikan kepada siswa yang berprestasi, bentuk hadiah yang diberikan tidak mesti yang mahal, yang murah pun juga bisa selama tujuannya untuk motivasi belajar siswa serta dapat dimanfa’atkan untuk kepentingan belajar anak didik.  Keampuhan hadiah sebagai alat untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik akan terasa jika penggunaannya tepat.  Misalnya memberi hadiah secara tiba-tiba (spontan) kepada siswa yang mampu lebih dulu menyelesakan tugasnya, dengan demikian dia merasa bangga karena hasil kerjanya dihargai dalam bentuk materi. Hal ini pun dapat juga mendorong siswa lainnya untuk selalu berkompetisi dalam belajar.

  1. Pujian

Pujian merupakan alat motivasi positif, guru dapat memakai pujian untuk menyenangkan perasaan siswa.  Dengan mem-berikan perhatian siswa merasa diawasi dan dia tidak akan dapat berbuat menurut kehendak hatinya.  Namun begitu, pujian harus betul-betul sesuai dengan hasil kerja siswa, dan jangan berlebih-lebihan.  Pujian yang baik adalah pujian yang keluar dari seorang guru secara wajar sebagai sebuah peng-hargaan.

  1. Gerakan Tubuh

Suatu gerakan tubuh dalam bentuk mimik yang cerah, dengan senyum, mengangguk, acungan jempol, tepuk tangan, memberi salam, menaikkan bahu, geleng-geleng kepala, menaik-kan tangan dan lain-lain adalah merupakan gerakan fisik yang dapat memberikan motivasi kepada siswa.  Gerakan Tubuh fungsinya adalah sebagai penguatan yang dapat membangkitkan gairah belajar siswa, dan proses belajar mengajar terkesan menyenangkan.  Sebagai suatu interaksi antara guru dengan siswa dalam mencapai tujuan pengajaran, gerakan tubuh dapat memfungsikan untuk meluruskan prilaku anak didik.  Gerakan tubuh yang bagaimana pun bentuknya dapat melahirkan umpan balik dari siswa jika dilakukan dengan tepat sesuai dengan kondisi kelas.

  1. Memberi Tugas

Tugas adalah suatu pekerjaan yang menuntut untuk diselesai-kan.  Guru dapat memberikan tugas kepada siswa sebagai bagian yang tak dapat dipisahkan dari aktivitas belajar mengajar.  Dengan memberikan tugas diakhir penyampaian bahan pelajaran, secara otomatis siswa akan memperhatikan penyampaian bahan pelajaran dan tentu dia akan berusaha untuk lebih berkonsentrasi terhadap pelajaran, sebab bila tidak mereka khawatir tidak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan.

  1. Memberi Ulangan

Ulangan adalah salah satu yang penting dalam proses pengajaran, yaitu untuk mengetahui sejauh mana daya serap siswa dari materi yang sudah diberikan, sekaligus sebagai Feed Back dalam proses belajar mengajar.

  1. Mengetahui Hasil

Ingin mengetahui hasil adalah suatu sifat yang sudah melekat dalam diri setiap orang.  Hal ini mendorong seseorang akan berusaha  dengan berbagai cara.  Guru harus secara transparan memberitahukan hasil tersebut, jika perlu semua hasil kertas ulangan dibagikan agar siswa mengetahui hasil kerjanya serta dapat melakukan perbaikan dimasa mendatang.  Guru harus arif menanamkan sifat positif terhadap siswa agar tidak kecewa dengan prestasi yang rendah serta memberikan bimbingan untuk membetulkan agar tidak terulang kembali.

  1. Hukuman

Hukuman adalah reinforcement yang negatif, tetapi diperlu-kan dalam pendidikan.  Bentuk hukuman itu harus positif dan bersifat mendidik terhadap pelanggaran disiplin yang ditetap-kan.  Bentuk hukuman dapat pula dilakukan oleh guru setelah adanya komitmen antara guru dengan siswa sebelumnya yang penting hukuman itu bernuansa mendidik dan jangan dengan kekerasan.[9]

Djamarah dan Zain juga memberikan beberapa cara yang tidak jauh berbeda dalam memotivasi belajar siswa, yaitu:

  • Membangkitkan dorongan kepada para siswa untuk belajar.
  • Menjelaskan secara konkrit kepada para siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran
  • Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai para siswa sehingga dapat merangsang untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik di kemudian hari.
  • Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
  • Membantu kesulitan belajar para siswa secara individual mau-pun kelompok
  • Menggunakan metode yang bervariasi. [10]

Sebagai Motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan yang tumbuh melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif, dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar.

Lingkungan fisik yang kondusif akan menumbuhkan motivasi kependidikan dalam melaksanakan  tugasnya. Oleh karena itu kepala sekolah harus mampu membangkitkan motivasi tenaga kependidikan agar dapat melaksanakan  tugas secara optimal.

Pengaturan iklim fisik suasana kerja yang tenang dan menyenangkan juga akan membangkitkan kinerja para tenaga kependidikan.

Usaha untuk menanamkan disiplin yang tinggi serta meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan kepada semua bawahan. Dengan disiplin diharapan dapat tercapai tujuan efektif dan efisien serta dapat meningkatkan produktifitas sekolah.

Ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan oleh kepala sekolah dalam mendorong tenaga kependidikan agar mau dan mampu meningkatkan profesionalismenya :

  1. Para tenaga kependidikan akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik, dan menyenangkan.
  2. tujuan kegiatan perlu disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada para tenaga kependidikan sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja. Dan tenaga kependidikan dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut.
  3. Tenaga kependidikan harus selalu diberitahu tentang hasil dari setiap pekerjaannya.
  4. pemberian hadiah lebih dari pada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan.
  5. Usahakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan dengan jalan memeprhatikan kondisi fisiknya, memberikan rasa aman, menunjukkan bahwa kepala sekolah memperhatikan mereka, menagtur pengalaman sedemikian rupa sehingga setiap pegawai pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan.

Penghargaan ini sangat penting untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan, dan untuk mengurangi kegiatan yang kurang produktif. Melalui penghargaan ini para tenaga kependidikan dapat dirangsang untuk meningkatkan profesionalisme kerjanya secara positif dan produktif.


BAB III

PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Kepala sekolah merupakan seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dengan murid yang menerima pelajaran.

Motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong siswa untuk belajar dengan senang, dan belajar secara sungguh-sungguh, yang pada gilirannya akan terbentuk cara belajar yang sistematis, penuh konsentrasi dan dapat menyeleksi kegiatan-kegiatannya.

Djamarah dan Zain juga memberikan beberapa cara yang tidak jauh berbeda dalam memotivasi belajar siswa, yaitu: a)Membangkitkan dorongan kepada para siswa untuk belajar. b) Menjelaskan secara konkrit kepada para siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran. c) memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai para siswa sehingga dapat merangsang untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik di kemudian hari. d) Membentuk kebiasaan belajar yang baik. e) Membantu kesulitan belajar para siswa secara individual mau-pun kelompok. f) Menggunakan metode yang bervariasi.


[1] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah; Tinjauan Teoritis dan Permasalahannya (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2001), h.81

[2] Mukhtar lutfi. Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II,. Manajemen Sistem Pendidikan Nasional ; Sentralisasi, Dekonsentrasi dan Desentralisasi, Bandung : University Press IKIP Bandung, 1992, hh. 161-169.

[3] C. Turney dkk. Op. Cit. h.. 5 dan 42.

[4] Al-Muttaqi Al-Hindi. Kanju al-Ummal : Fi Sinin al-aqwal wa al-Af al. Bairut : Muassasah ar-Risalah, 1989, h. 22.

[5] Departemen  Pendidikan  dan  Kebudayaan,  Kamus  Besar  bahasa  Indonesia (Jakarta; Perum Balai Pustaka, 1988) hh. 420, 796.

[6] H. Nashar, Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan Pembelajaran, Jakarta: Delia Press, 2004, cet. Ke-2, h. 13

[7] Ibid, h. 38, 39

[8] Ibid

[9] Sobri, “Urgensi Motivasi dalam Proses Pembelajaran”, Jambi Ekspress, Rabu, 18 Juni 2008, h. 15

[10] S.B. Djamarah dan A. Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1996, h. 168

1 Tanggapan to "FUNGSI KEPALA SEKOLAH"

[…] Karena sifat yang kompleks dan unik tersebut, sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah.[1] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 89,366 hits

RSS model pembelajaran inovatif1

April 2014
S M S S R K J
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Komentar Terakhir

There are no public comments available to display.

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: